AKHLAQ KEPADA GURU

Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh ‘azza wa jalla. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.

Read the rest of this entry »

Hadits Nabi saw dilihat dari sanadnya terbagi menjadi dua, yaitu Hadits Mutawatir ( المتواتر ) dan Hadits Ahad ( الآحاد ).

HADITS MUTAWATIR

Hadits Mutawatir yaitu hadits inderawi yang diriwayatkan oleh orang banyak yang mustahil menurut adat terjadinya kesepakatan dusta di antara mereka. Hadits Mutawatir terbagi dua, yaitu :

Read the rest of this entry »

Banyak orang berkata tentang cinta, bahkan mengupas seputar misteri cinta, tetapi mereka tidak mampu memberikan pengertian yang hakiki tentang makna cinta yang sebenarnya. Karena istilah “cinta” yang banyak difahami oleh orang-orang awam adalah “nafsu untuk bisa memiliki apa yang diinginkan” yang hanya didasarkan atas penilaian fisik atau duniawi semata. Sehingga istilah “cinta” yang demikian di dalam Al-Qur’an dan Hadits sering disebut dengan istilah syahwat.

Read the rest of this entry »

AKHLAQ KEPADA KEDUA ORANG TUA

Kewajiban berikutnya setelah menta’ati Alloh dan Rosul-Nya adalah berbakti kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadits :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ ص قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى مِيْقَاتِهَا , قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud ra : “Aku bertanya kepada Rosululloh saw : “Amalan apakah yang paling utama ?” Beliau menjawab : “Sholat tepat pada waktunya.” Aku bertanya : “Kemudian apa ?” Beliau menjawab : “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya : “Kemudian apa lagi ?” Beliau menjawab : “Berjihad di jalan Alloh.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

Read the rest of this entry »

Issue qiyamat akan terjadi pada tahun 2012 sebenarnya issue lama yang hangat kembali ketika orang-orang Barat mendramatisirnya menjadi sebuah film. Issue tersebut berakar dari kalender Suku Maya yang berakhir pada tanggal 21 Desember 2012. Suku Maya adalah suku yang tinggal di Amerika Tengah yang memang memiliki keahlian di bidang matematika dan astronomi. Memang kalender mereka merentang selama 5125 tahun dan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012, tetapi ini bukan klaim mutlak dari Suku Maya bahwa qiyamat memang terjadi saat itu. Meskipun diakui ada juga sebagian komunitas Suku Maya yang menafsirkan seperti itu. Penafsiran ini yang kemudian diangkat oleh media menjadi issue yang sempat menggegerkan dunia.
Berbagai teori dibuat oleh sebagian kalangan untuk mendukung ramalan bahwa qiyamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012 yang sekilas terlihat ilmiah sehingga mempengaruhi banyak opini dunia. Padahal semua teori itu adalah pseudoilmiah ( keilmiahan yang palsu ). Read the rest of this entry »

AL-HADITS
Hadits ( الحديث ) menurut bahasa bermakna “ baru ”. Menurut istilah para ulama ahli hadits yaitu : “Apa saja yang disandarkan kepada Nabi Muhammad  baik yang berupa perkataan, perbuatan, persetujuan ( taqrir ) maupun sifat-sifat beliau.”
Hadits disebut pula dengan beberapa nama yang lain, yaitu :
1. Sunnah ( السنة )
2. Khobar ( الخبر ), namun dalam perkembangannya istilah Khobar lebih umum meliputi semua berita, dari Nabi saw atau pun dari selain beliau.
3. Atsar ( الأثر ), namuan dalam perkembangannya istilah atsar lebih banyak dipakai untuk penukilan dari para Shahabat ra , para Tabi’in dan para ‘ulama Salaf lainnya.
Ulama ahli hadits disebut Muhaddits ( المحدث ).
BEBERAPA ISTILAH PENTING
Hadits terbagi menjadi dua bagian, yaitu Sanad ( السَّنَدُ ) dan Matan ( الْمَتْنُ ). Sanad adalah susunan para perowi suatu hadits, disebut pula dengan isnad ( الإسناد ). Rowi ( الراوي ) yaitu orang yang meriwayatkan hadits. Dan Matan adalah bunyi teks dari hadits. Contoh :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَ إ ِنَّمَا ِلامْرِئٍ مَا نَوَى
“ ‘Abdulloh bin Maslamah bin Qo’nab telah bercerita kepada kami : Malik telah bercerita kepada kami dari Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Ibrohim dari ‘Alqomah bin Waqqosh dari ‘Umar bin Al-Khoththob, dia berkata : “Rosululloh saw bersabda : “Sesungguhnya amalan-amalan itu hanya bergantung kepada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan.”
Hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shohih-nya. Read the rest of this entry »

Fiqh ( الْفِقْهُ ) berasal dari kata فَقِهَ يَفْقَهُ فَقَهًا وَ فِقْهًا yang bermakna : “memahami dengan baik”. Dalam istilah syari’at, Fiqh adalah : Mengenal hukum-hukum agama yang bersifat amaliyah yang berdasarkan dalil-dalil yang terperinci.
Hukum agama yaitu segala ketentuan yang ditetapkan oleh Alloh dalam Al-Qur’an dan Rosul-Nya dalam As-Sunnah ( Hadits ).
Dalil ( الدَّّلِيْلُ ) yaitu sesuatu yang menunjukkan kepada suatu ketentuan agama. Dalil ini terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Dalil Naqli ( النَّقْلِيُّ ), yaitu dalil yang bersandar kepada wahyu, yakni : Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan Ijma’ ( الإجماع ) diikutkan kepadanya
2. Dalil Aqli ( الْعَقْلِيُّ ), yaitu dalil yang bersandar kepada proses berfikir atau pertimbangan akal dengan tetap dipandu oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalil ‘aqli ini banyak dan bermacam-macam, di antaranya : Qiyas, Mashlahah Mursalah, Istishhab, ‘Urf, Istihsan dan lain-lain.
Dalam Ilmu Fiqh akan dibahas semua yang berkenaan dengan amaliyah badan yang diperintahkan oleh agama berdasarkan dalil-dalilnya yang rinci dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Read the rest of this entry »

PENGERTIAN AKHLAQ

Akhlaq ( الأَخْلاَقُ ) adalah bentuk jamak dari خُلُقٌ yang berarti “ suatu keadaan yang tertanam di dalam jiwa yang akan muncul darinya berbagai perbuatan yang dikehendakinya, yang baik maupun yang buruk.” Akhlaq yang terpuji adalah cerminan dari ‘aqidah atau keimanan yang benar, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang bagus.” ( HSR. Ahmad )

Kebagusan akhlaq adalah barometer dari keimanan seseorang, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaqnya.” ( HSR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi )

Sehingga kebagusan akhlaq ini sangat diperlukan untuk keselamatan di dunia dan di akhirat, bahkan Rosululloh saw pernah bersabda :

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal ( di akhirat ) daripada akhlaq yang bagus.” ( HSR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi )

AKHLAQ KEPADA ALLOH

Yang paling utama dan paling wajib untuk kita berakhlaq baik kepadanya adalah kepada Alloh Tuhan semesta alam. Karena Dia Yang telah menciptakan kita dan memberi rizki kepada kita, sehingga wajib bagi kita untuk bersyukur kepada Alloh, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوا لِي وَ لا تَكْفُرُونِ

“Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingat kalian, bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kalian kufur ( ingkar ) kepada-Ku !” ( Qs. Al-Baqoroh : 152 )

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah ketika Tuhan kalian mengumumkan bahwa bila kalian bersyukur niscaya Aku tambah ( nikmat-Ku ) kepada kalian, namun bila kalian kufur sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” ( Qs. Ibrohim : 7 ) Read the rest of this entry »

Ada beberapa situs yang menyebarkan tuduhan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat nyentrik dan banyak kontradiktif. Maka pada kesempatan kali ini mari kita mencoba mengupas satu-persatu tuduhan mereka lengkap berikut bantahannya, semoga bermanfa’at.

TUDUHAN dan BANTAHAN PERTAMA

Di antara ayat-ayat nyentrik yang mereka tuduhkan adalah Qs. Al-Kahfi : 86. Dalam ayat ini terdapat kata-kata : تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ yang bermakna “matahari tenggelam di dalam laut yang ber-lumpur hitam ”. Lantas mereka berkata : “Qur’an mengajarkan bahwa matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam”.

Sesungguhnya pemahaman ayat ini tidak sebagaimana yang mereka fahami, karena tidak ada se-orang ahli tafsir dari kalangan kaum muslimin yang menafsirkan ayat ini sebagaimana yang mereka fahami dengan kesempitan fikiran mereka. Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengomentari penafsiran yang demikian : وأكثر ذلك من خرافات أهل الكتاب، واختلاق زنادقتهم وكذبهم

“Dan kebanyakan yang demikian itu berasal dari khurofatnya Ahli Kitab, dan karangannya kaum zindiq dan pendusta dari kalangan mereka.”

Makna kalimat “matahari tenggelam di dalam lautan” adalah makna kiasan, sebagaimana kalimat yang serupa sering dilontarkan oleh para ahli sastra, seperti : “ matahari pun hilang di telan bumi “, maknanya adalah kiasan, yaitu matahari menghilang seolah-olah ditelan bumi. Dan tidak ada se-orang ahli sastra pun yang menyalahkan kalimat ini, begitu pula dengan para ahli ilmu falaq, karena setiap pembicaraan dihukumi dengan tempatnya, sebagaimana tersebut dalam kaidah فِيْ كُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ

yaitu “setiap perkataan ada tempatnya”. Yakni, bila suatu perkataan dilontarkan tidak pada tem- patnya maka dapat dihukumi dengan salah, walau pun pada hakekatnya adalah benar. Seperti ketika dalam pelajaran sejarah ditanyatakan : “Kenapa Diponegoro bisa tertangkap ?”, lalu ada murid yang menjawab : “Karena taqdir.” Jawaban murid tersebut pada hakekatnya adalah benar, namun ti dak pada tempatnya sehingga gurunya menyalahkannya. Bukankah demikian ?

Begitu pula ketika berbicara tentang ketinggian gaya bahasa, maka tidak disalahkan mengatakan : “matahari tenggelam ditelan lautan” dalam dalam ilmu balaghoh jenis kalimat ini disebut Majaz ‘Aqli yaitu kiasan yang dapat diterima oleh akal. Contoh lain dari Majaz ‘Aqli ini seperti pada kali- mat : “Hujan telah menumbuhkan tanam-tanaman”, padahal hakekatnya bukan demikian, karena Alloh saja Yang bisa menumbuhkan tanam-tanaman melalui sari makanan yang dibawa oleh air hujan. Namun kesan yang segera terbesit dalam fikiran yaitu karena hujan maka tumbuh tanam-tanaman. Begitu pula bagi siapa pun yang berdiri di tepi pantai dari sebuah lautan yang luas ketika matahari tenggelam, maka ia melihat seolah-olah matahari tenggelam ditelan lautan. Tetapi hakekat nya tidaklah demikian. Inilah pemahaman yang disampaikan oleh seluruh ahli tafsir dari kalangan kaum muslimin tanpa ada perselisihan di dalam masalah ini.

Read the rest of this entry »

Penduduk Babilonia maupun Palestina ketika itu adalah penyembah berhala, sedangkan Nabi Ibrohim u adalah putera dari Azar yang merupa-kan salah seorang pembuat berhala. Namun dengan petunjuk dari Alloh, Na bi Ibrohim u diselamatkan oleh Alloh ta’ala dari mengikuti agama bapak-nya maupun kaumnya.

Ketika beranjak dewasa, Nabi Ibrohim u berdialog dengan ayah-nya dan kaumnya seputar pemujaan berhala yang dilakukan oleh kaumnya :

“Dan Sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrohim hidayah kebe naran sebelum itu, dan adalah Kami mengetahui ( keadaan )-nya. Ingatlah ke tika Ibrohim berkata kepada bapaknya dan kaumnya : “Patung-patung apa- kah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya ?” Mereka menjawab : “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” Ibrohim berkata : “Sesung-guhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.” Mereka menjawab : “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main ?” Ibrohim berkata : “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi Yang telah menciptakannya dan aku termasuk orang-orang yang dapat mem berikan bukti atas yang demikian itu.” Demi Allah, Sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya te

Read the rest of this entry »